<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Hanhandini&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://hanhandini.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hanhandini.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 19 Aug 2009 20:17:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='hanhandini.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Hanhandini&#039;s Blog</title>
		<link>http://hanhandini.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://hanhandini.wordpress.com/osd.xml" title="Hanhandini&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://hanhandini.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Melirik Hak Warga Negara di Negeri Orang</title>
		<link>http://hanhandini.wordpress.com/2009/08/19/melirik-hak-warga-negara-di-negeri-orang/</link>
		<comments>http://hanhandini.wordpress.com/2009/08/19/melirik-hak-warga-negara-di-negeri-orang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Aug 2009 19:38:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Handini Suwarno</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia dan malaysia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanhandini.wordpress.com/2009/08/19/melirik-hak-warga-negara-di-negeri-orang/</guid>
		<description><![CDATA[Aksi-aksi menyikapi pasca-kaburnya Ceriyati dari apartemen majikannya di negeri Jiran terus saja berlanjut. Aksi yang digelar di depan gedung kedutaan Malaysia di Jakarta tentunya membawa kilas balik kasus-kasus yang sudah sering terjadi terhadap para TKW asal Indonesia. Ceriyati, yang kini menjadi sorotan publik baik di negerinya sendiri maupun di negeri tempat ia mengalami kemalangan tentunya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanhandini.wordpress.com&amp;blog=8101712&amp;post=13&amp;subd=hanhandini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>	Aksi-aksi menyikapi pasca-kaburnya Ceriyati dari apartemen majikannya di negeri Jiran terus saja berlanjut. Aksi yang digelar di depan gedung kedutaan Malaysia di Jakarta tentunya membawa kilas balik kasus-kasus yang sudah sering terjadi terhadap para TKW asal Indonesia. Ceriyati, yang kini menjadi sorotan publik baik di negerinya sendiri maupun di negeri tempat ia mengalami kemalangan tentunya mempunyai hak untuk menuntut segala apa yang harusnya ia dapatkan. Tapi apa yang terjadi? Terkungkungkah pemerintah RI untuk menegakkan hak-hak Ceriyati?<br />
	Penulis melihat ada suatu keganjalan dibalik permasalahan ini. Kesan tidak adil teradopsi dari pendapat Wahyu Susilo-selaku Migrant Care. Ia menjelaskan bahwa pihaknya telah mendata secara akurat bahwa 16.000 TKI Indonesia di cambuk karena bermasalah dengan majikannya dan di proses secara hukum. Adilkah hukum Malaysia yang mencambuk hanya 2 orang saja warga negaranya—selaku majikan yang telah melanggar hukum? Berdiam dirikah Negeri kita tercinta melihat kenyataan yang meginjak-injak hak Warga Negara Indonesia di negeri orang, setelah sebelumnya Bapak Gubernur-Sutiyoso mengalami hal yang tiada terduga, mengancam haknya sebagai tamu terhormat yang saat itu sedang istirahat di sebuah hotel di Sydney, Australia.<br />
	Memang, pemerintah telah peduli dan ikut ambil bagian dalam membela dan menempatkan Ceriyati demi menegakkan hak-hak Ceriyati dalam hukum dan pemerintahan. Dan dalam pengembangan selanjutnya, disimpulkan langkah-langkah yang ditempuh Indonesia untuk memulangkan Ceriyati ke Indonesia, dengan syarat yang telah disepakati antar kedua belah pihak, Indonesia dan Malaysia. Tapi, di satu sisi—syarat itu justru hanya melindungi Malaysia saja. Menutupi segala kebobrokan yang terselimuti sejak lama para TKW asal Indonesia bekerja di sana.<br />
	Idealnya, kita belajar dari pengalaman yang ada-karena pengalaman adalah guru yang terbaik. Tapi apa yang terjadi? Indonesia terlampau berbaik hati dengan menyerahkan hukum kepada Malaysia dengan iming-iming akan segera menghukum Ivone-si majikan berdarah dingin juga pengembalian hak-hak Ceriyati-termasuk denda karena penyiksaan, juga karena belum dibayarnya upah Ceriyati selama 4,5 bulan. Lupakah Indonesia terhadap kasus Nirmala Bonar yang akhirnya berbalik menyerang Nirmala Bonar sendiri? Masih percayakah dengan langkah-langkah antisipasi yang ditawarkan pihak lain, tentunya bukan hanya dengan Malaysia saja?<br />
	Dalam kenyataanya, semua kasus penganiayaan TKI di negeri orang itu timbul karena murni kesalahan majikan. Harusnya, Indonesia-selaku negara pengirim tenaga kerja, dapat mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, apalagi TKI yang dikirimkan itu bukan barang, mereka adalah manusia yang berstatus Warga Negara Indonesia. Hendaknya, langkah-langkah dn hukum yang ditempuh Indonesia selama ini dibahas dan di perbaiki, diperkuat lagi guna menyongsong kedinamisan antara penyaluran tenaga kerja ke luar negeri dengan hukum dan semua peraturan yang dapat menyulitkan tangan-tangan berdarah dingin yang gemar menyiksa para tenaga kerja kita di luar sana.<br />
	Melirik hak-hak WNI di negara orang, tentunya menyeret Indonesia untuk melakukan perubahan-perubahan mendasar dalam melakukan penyaluran tenaga kerja. Partisipasi pemerintah dalam memperbaiki hak-hak TKI yang berada di negeri orang ditunggu oleh segenap harapan WNI yang berada di negeri orang. </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hanhandini.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hanhandini.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hanhandini.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hanhandini.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hanhandini.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hanhandini.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hanhandini.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hanhandini.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hanhandini.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hanhandini.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hanhandini.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hanhandini.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hanhandini.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hanhandini.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanhandini.wordpress.com&amp;blog=8101712&amp;post=13&amp;subd=hanhandini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanhandini.wordpress.com/2009/08/19/melirik-hak-warga-negara-di-negeri-orang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/34397f4a1f6d0dc4c22ac97012056b5e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">handini</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Urat Nadi Metropolis Oleh Handini Suwarno</title>
		<link>http://hanhandini.wordpress.com/2009/06/24/urat-nadi-metropolis-oleh-handini-suwarno/</link>
		<comments>http://hanhandini.wordpress.com/2009/06/24/urat-nadi-metropolis-oleh-handini-suwarno/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Jun 2009 06:19:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Handini Suwarno</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanhandini.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Lampu-lampu jalan tinggi menjulang membelah jalan ibukota yang ramai dan padat oleh kendaran roda empat dan roda dua bermesin yang diimpor dari Jepang dan negara-negara Eropa. Pucuk Monas terlihat mengkilap tertempa sinar matahari-bila keadaan matahari masih menyinari bumi, dan tetap mengkilap pada malam hari-oleh adanya sorot lampu dari sana-sini. Seakan tidak mau kalah, ratusan bahkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanhandini.wordpress.com&amp;blog=8101712&amp;post=11&amp;subd=hanhandini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lampu-lampu jalan tinggi menjulang membelah jalan ibukota yang ramai dan padat oleh kendaran roda empat dan roda dua bermesin yang diimpor dari Jepang dan negara-negara Eropa. Pucuk Monas terlihat mengkilap tertempa sinar matahari-bila keadaan matahari masih menyinari bumi, dan tetap mengkilap pada malam hari-oleh adanya sorot lampu dari sana-sini. Seakan tidak mau kalah, ratusan bahkan ribuan gedung-gedung pencakar langit, kini telah menjadi pelengkap yang diharuskan di sebuah kota metropolitan dengan kadar mewah, megah, dan mahal. Dan satu lagi, mereka berdiri angkuh di jalan-jalan ibukota. Saya selalu membayangkan kota saya yang begitu indah dengan kemaha-modernnya bisa bebas sepenuhnya dari luapan samudera coklat yang datang sewaktu-waktu, terlebih-lebih jika musim penghujan telah datang. Namun ironis, pembangunan pesat yang menunjukkan tingkat kehidupan yang diusung oleh para warga metropolitan ini tidak diimbangi dengan nyata untuk sesuatu hal yang penting, namun terlalu dianggap sepele dan acapkali diremehkan.  Adalah banjir, yang merupakan makna leksikal dari samudera coklat yang telah saya katakan di bagian atas. Banjir kini tidak hanya melanda kawasan kumuh dan pinggiran kota Jakarta, tapi juga melahap kawasan elit dengan rumah-rumah mewah bergarasi. Banjir bukan berpindah haluan dari daerah kumuh dan menembus daerah elit, namun banjir memperluas daerah kekuasaannya. Ibarat caleg dari sebuah partai, banjir kian semangat menyongsong dirinya agar dapat menguasai daerahnya-tempat ia berasal ke daerah lainnya. Sungguh fantastis-tatkala musim hujan tiba, maka yang kelimpungan kini tidak hanya masyarakat dengan kelas ekonomi menengah ke bawah yang sibuk menaikkan barang dan perabotan rumah tangganya, tapi juga masyarakat golongan borjuis yang kebingungan menyelamatkan barang-barang dan perabotannya karena harga barang-barang dan perabotannya di luar batas kemampuan masyarakat kelas bawah.  Jika dirunut lebih jauh hal ini kian jelas dan semakin jelas. Bahwasanya masyarakat metropolis kurang memperhatikan kebersihan adalah salah satu faktor utama penembus banjir menggenangi bagian-bagian elit di pusat seluruh kegiatan negara ini. Tidak usah jauh-jauh, lihatlah disekitar anda sekarang, di jalan yang anda lalui, di trotar tempat anda menyeberang setiap hari untuk pergi bekerja, di  bus kota yang anda gunakan, apa yang anda lihat? Bukankah hanya ada satu kata yang paling tepat dan mewakili dari keseluruhan yang ada untuk seharusnya tidak berada di sana. Tahukan anda kata apa itu? Jawabannya singkat : Sampah. Sampah adalah salah satu yang dihasilkan oleh makhluk hidup, sepertihalnya manusia dalam menjalani proses kehidupannya. Tidak dapat dipungkiri, bahwa satu jiwa saja tentu akan menghasilkan sampah. Dan inilah yang tidak disadari warga Jakarta pada umumnya. Kebanyakan dari kita tidak begitu mementingkan kebersihan, jujur saja. Sebagian orang mengaku bersih dan menjaga kebersihan, hanya saja mencakup membersihkan diri dan lingkungan sekitar, serta tidak peduli dengan lingkungan yang bukan sekitar. Fenomena ini terlihat dari lingkungan sekitar yang masih saja diperlukan seorang tukang sapu di jalan tol bebas hambatan-yang notabene sangat riskan sekali.  Begitu banyak berserakan sampah, entah organik, maupun non organik yang dihasilkan penduduk Jakarta tidak hanya merambah jalan raya, lingkungan sekitar rumah, selokan dekat sekolah, kantor-bahkan juga sarana penunjang paling vital, termasuk sungai.  Sungai Ciliwung yang melintasi kota Bogor, Kabupaten Bogor, Depok, dan Jakarta terlihat kurang terurus, atau bahkan tidak terurus sama sekali. Sungai ini adalah urat nadi Jakarta—yang entah mengapa jarang diperhatikan oleh warga masyarakatnya, apalagi para petinggi yang sedang menaungi daerah yang dipimpinnya. Hal yang terlihat tatkala memandang Ciliwung dengan seksama, timbul perasaan yang sedih bercampur pilu dan geram. Jutaan sampah plastik, sterofoam-yang memiliki kadar bahaya bila digunakan sedang mengambang minta perhatian untuk diangkut dan dibawa ke tempat yang semestinya. Namun seakan tak ada yang peduli, jutaan plastik-plastik yang tidak tahu lagi harus berbuat apa-karena keterbatasan geraknya sebagai benda mati yang hanya mengikuti gejolak arus air yang membawanya hanya bisa terus-menerus menunggu dan teronggok menyedihkan untuk minta diangkut. Tapi siapa peduli? Proyek pengangkatan sampah-sampah di sungai Ciliwung tidak akan memberikan keuntungan secara material dan instan untuk orang-orang yang bernanung di dalamnya. Maka itulah, mungkin kesan segan dan tidak peduli para elit pejabat daerah terus-menerus merangsek dengan niat mereka yang tidak tulus memberikan kebaikan untuk kota yang mereka pimpin.  Sampah-sampah yang tidak dipedulikan akhirnya sedikit demi sedikit, sehari demi sehari kian bertumpuk dalam skala yang tidak dapat dihindari. Mereka semakin membludak dan Ciliwung semakin dangkal karena proses pembludakan sampah-sampah yang tidak dikendalikan oleh program-program pemerintah yang diperuntukkan warga masyarakat dalam menyeimbangkan keadaan yang kian hari kian payah. Tidak hanya sampah-sampah yang menjadi faktor Ciliwung kian payah, tapi juga karena timbulnya rumah-rumah semi permanen, bahkan permanen di sekitar bantaran kali Ciliwung. Akibatnya, badan Ciliwung menyusut dan kian menyusut setiap harinya. Dengan penyusutan badan Ciliwung itu, maka otomatis volume air hujan yang dapat ditampung Ciliwung akan menyusut juga, dan akibatnya banjir sudah di depan mata. Dangkalnya Ciliwung oleh sampah, juga penyempitan badan Ciliwung adalah dua hal yang paling krusial menyebabkan bencana banjir di kota Jakarta yang merupakan ibukota negara dengan penduduk dua ratus juta jiwa lebih. Masalah kesehatan-pun timbul kembali dalam wacana ini. Warga yang tinggal di bantaran kali Ciliwung tatkala harus memenuhi kebutuhan MCK Mandi, Cuci, Kakus-nya di kali Ciliwung yang sudah tercemar oleh sampah-sampah. Bahkan mereka menggunakan air dari Ciliwung untuk kesemua aktifitas yang membutuhkan air. Bisakah pemerintah yang duduk di atas sana membayangkan hal ini? Semakin hari daerah peresapan di Jakarta-yang merupakan kota metropolitan ini juga semakin sedikit. Proyek-proyek pembangunan mal di ibukota sudah menjadi bisnis tersendiri bagi pemerintah daerah untuk menggolkan-karena mungkin dianggap lebih menguntungkan dibandingkan dengan mengurusi sampah-sampah di Ciliwung. Padahal di Beijing, sungai bisa menjadi objek wisata yang menguntungkan negara setiap harinya dengan jumlah yang lumayan besar. Apakah kita tidak ingin mencontohnya, mengingat Ciliwung adalah urat nadi metropolis yang snagat strategis bila diusung dalam proyek bisnis semacam ini? Dengan menjadi objek wisata, tidak dapat dipungkiri-akan menyedot jumlah tenaga kerja bagi penduduk sekitar. Perbedaan orientasi antara pemerintah,Urat Nadi Metropolis Oleh : Handini Suwarno, Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia UNJ 2006  	Lampu-lampu jalan tinggi menjulang membelah jalan ibukota yang ramai dan padat oleh kendaran roda empat dan roda dua bermesin yang diimpor dari Jepang dan negara-negara Eropa. Pucuk Monas terlihat mengkilap tertempa sinar matahari-bila keadaan matahari masih menyinari bumi, dan tetap mengkilap pada malam hari-oleh adanya sorot lampu dari sana-sini. Seakan tidak mau kalah, ratusan bahkan ribuan gedung-gedung pencakar langit, kini telah menjadi pelengkap yang diharuskan di sebuah kota metropolitan dengan kadar mewah, megah, dan mahal. Dan satu lagi, mereka berdiri angkuh di jalan-jalan ibukota. Saya selalu membayangkan kota saya yang begitu indah dengan kemaha-modernnya bisa bebas sepenuhnya dari luapan samudera coklat yang datang sewaktu-waktu, terlebih-lebih jika musim penghujan telah datang. Namun ironis, pembangunan pesat yang menunjukkan tingkat kehidupan yang diusung oleh para warga metropolitan ini tidak diimbangi dengan nyata untuk sesuatu hal yang penting, namun terlalu dianggap sepele dan acapkali diremehkan.  Adalah banjir, yang merupakan makna leksikal dari samudera coklat yang telah saya katakan di bagian atas. Banjir kini tidak hanya melanda kawasan kumuh dan pinggiran kota Jakarta, tapi juga melahap kawasan elit dengan rumah-rumah mewah bergarasi. Banjir bukan berpindah haluan dari daerah kumuh dan menembus daerah elit, namun banjir memperluas daerah kekuasaannya. Ibarat caleg dari sebuah partai, banjir kian semangat menyongsong dirinya agar dapat menguasai daerahnya-tempat ia berasal ke daerah lainnya. Sungguh fantastis-tatkala musim hujan tiba, maka yang kelimpungan kini tidak hanya masyarakat dengan kelas ekonomi menengah ke bawah yang sibuk menaikkan barang dan perabotan rumah tangganya, tapi juga masyarakat golongan borjuis yang kebingungan menyelamatkan barang-barang dan perabotannya karena harga barang-barang dan perabotannya di luar batas kemampuan masyarakat kelas bawah.  Jika dirunut lebih jauh hal ini kian jelas dan semakin jelas. Bahwasanya masyarakat metropolis kurang memperhatikan kebersihan adalah salah satu faktor utama penembus banjir menggenangi bagian-bagian elit di pusat seluruh kegiatan negara ini. Tidak usah jauh-jauh, lihatlah disekitar anda sekarang, di jalan yang anda lalui, di trotar tempat anda menyeberang setiap hari untuk pergi bekerja, di  bus kota yang anda gunakan, apa yang anda lihat? Bukankah hanya ada satu kata yang paling tepat dan mewakili dari keseluruhan yang ada untuk seharusnya tidak berada di sana. Tahukan anda kata apa itu? Jawabannya singkat : Sampah. Sampah adalah salah satu yang dihasilkan oleh makhluk hidup, sepertihalnya manusia dalam menjalani proses kehidupannya. Tidak dapat dipungkiri, bahwa satu jiwa saja tentu akan menghasilkan sampah. Dan inilah yang tidak disadari warga Jakarta pada umumnya. Kebanyakan dari kita tidak begitu mementingkan kebersihan, jujur saja. Sebagian orang mengaku bersih dan menjaga kebersihan, hanya saja mencakup membersihkan diri dan lingkungan sekitar, serta tidak peduli dengan lingkungan yang bukan sekitar. Fenomena ini terlihat dari lingkungan sekitar yang masih saja diperlukan seorang tukang sapu di jalan tol bebas hambatan-yang notabene sangat riskan sekali.  Begitu banyak berserakan sampah, entah organik, maupun non organik yang dihasilkan penduduk Jakarta tidak hanya merambah jalan raya, lingkungan sekitar rumah, selokan dekat sekolah, kantor-bahkan juga sarana penunjang paling vital, termasuk sungai.  Sungai Ciliwung yang melintasi kota Bogor, Kabupaten Bogor, Depok, dan Jakarta terlihat kurang terurus, atau bahkan tidak terurus sama sekali. Sungai ini adalah urat nadi Jakarta—yang entah mengapa jarang diperhatikan oleh warga masyarakatnya, apalagi para petinggi yang sedang menaungi daerah yang dipimpinnya. Hal yang terlihat tatkala memandang Ciliwung dengan seksama, timbul perasaan yang sedih bercampur pilu dan geram. Jutaan sampah plastik, sterofoam-yang memiliki kadar bahaya bila digunakan sedang mengambang minta perhatian untuk diangkut dan dibawa ke tempat yang semestinya. Namun seakan tak ada yang peduli, jutaan plastik-plastik yang tidak tahu lagi harus berbuat apa-karena keterbatasan geraknya sebagai benda mati yang hanya mengikuti gejolak arus air yang membawanya hanya bisa terus-menerus menunggu dan teronggok menyedihkan untuk minta diangkut. Tapi siapa peduli? Proyek pengangkatan sampah-sampah di sungai Ciliwung tidak akan memberikan keuntungan secara material dan instan untuk orang-orang yang bernanung di dalamnya. Maka itulah, mungkin kesan segan dan tidak peduli para elit pejabat daerah terus-menerus merangsek dengan niat mereka yang tidak tulus memberikan kebaikan untuk kota yang mereka pimpin.  Sampah-sampah yang tidak dipedulikan akhirnya sedikit demi sedikit, sehari demi sehari kian bertumpuk dalam skala yang tidak dapat dihindari. Mereka semakin membludak dan Ciliwung semakin dangkal karena proses pembludakan sampah-sampah yang tidak dikendalikan oleh program-program pemerintah yang diperuntukkan warga masyarakat dalam menyeimbangkan keadaan yang kian hari kian payah. Tidak hanya sampah-sampah yang menjadi faktor Ciliwung kian payah, tapi juga karena timbulnya rumah-rumah semi permanen, bahkan permanen di sekitar bantaran kali Ciliwung. Akibatnya, badan Ciliwung menyusut dan kian menyusut setiap harinya. Dengan penyusutan badan Ciliwung itu, maka otomatis volume air hujan yang dapat ditampung Ciliwung akan menyusut juga, dan akibatnya banjir sudah di depan mata. Dangkalnya Ciliwung oleh sampah, juga penyempitan badan Ciliwung adalah dua hal yang paling krusial menyebabkan bencana banjir di kota Jakarta yang merupakan ibukota negara dengan penduduk dua ratus juta jiwa lebih. Masalah kesehatan-pun timbul kembali dalam wacana ini. Warga yang tinggal di bantaran kali Ciliwung tatkala harus memenuhi kebutuhan MCK Mandi, Cuci, Kakus-nya di kali Ciliwung yang sudah tercemar oleh sampah-sampah. Bahkan mereka menggunakan air dari Ciliwung untuk kesemua aktifitas yang membutuhkan air. Bisakah pemerintah yang duduk di atas sana membayangkan hal ini? Semakin hari daerah peresapan di Jakarta-yang merupakan kota metropolitan ini juga semakin sedikit. Proyek-proyek pembangunan mal di ibukota sudah menjadi bisnis tersendiri bagi pemerintah daerah untuk menggolkan-karena mungkin dianggap lebih menguntungkan dibandingkan dengan mengurusi sampah-sampah di Ciliwung. Padahal di Beijing, sungai bisa menjadi objek wisata yang menguntungkan negara setiap harinya dengan jumlah yang lumayan besar. Apakah kita tidak ingin mencontohnya, mengingat Ciliwung adalah urat nadi metropolis yang snagat strategis bila diusung dalam proyek bisnis semacam ini? Dengan menjadi objek wisata, tidak dapat dipungkiri-akan menyedot jumlah tenaga kerja bagi penduduk sekitar. Perbedaan orientasi antara pemerintah, warga masyarakat, juga Ciliwung sendiri menyebabkan perdamaian mengenai banjir ini sulit untuk diselesaikan. Pemerintah yang kurang konsen menanggapi Ciliwung membuat para warga masyarakatnya kurang menyadari, atau memang karena warga masyarakat kita ini memiliki kepribadian yang harus didesak dan disadarkan pemerintah untuk sesuatu hal terlebih dahulu, maka tatkala pemerintah cuek bebek saja, maka yang terjadi di masyarakat terhadap Ciliwung adalah kecuekbebekan yang membumi. Akibatnya banjir selalu mengintai disetiap musim penghujan, dan kini banjir mengintai di setiap hujan lebat mengalir di ibukota Jakarta. Oleh karena itu, sebagai manusia yang bijak-bukankah kebersihan itu sebagian dari iman menurut agama mayoritas di republik ini? Mengapa tidak mencoba untuk menerapkannya? Dan mungkin ini hanya sekedar saran bagi pemerintah daerah untuk lebih konsen mengadakan program-program semacam Program Kali Bersih (Prokasih) yang beberapa dekade kebelakang pernah digalakkan, namun sekarang hilang begitu saja. Memang, berat rasanya bila persoalan ini hanya menitikberatkan pada pemerintah setempat, karena kenyataannya-sampah itu adalah hasil dari masyarakat juga, dan oleh karenanya maka hal ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata, melainkan warga yang bernanung di dalamnya. Namun, untuk menghindari bencana yang akan terjadi lebih dahsyat dan menyadarkan warga masyarakat kota Jakarta untuk lebih peduli terhadap bencana air bah samudera coklat tersebut, kalau bukan pemerintah yang menyadarkan siapa lagi? Bukankah itu tugas pemimpin untuk menyadarkan warga masyarakat yang bernanung di dalam kekuasaannya? Atas nama Ciliwung yang menjadi urat nadi kota. Sanggupkah kita membersihkan nadi yang macet karena sampah untuk kesehatan dan keuntungan-keuntungan lain di depan?   **Sekian**    warga masyarakat, juga Ciliwung sendiri menyebabkan perdamaian mengenai banjir ini sulit untuk diselesaikan. Pemerintah yang kurang konsen menanggapi Ciliwung membuat para warga masyarakatnya kurang menyadari, atau memang karena warga masyarakat kita ini memiliki kepribadian yang harus didesak dan disadarkan pemerintah untuk sesuatu hal terlebih dahulu, maka tatkala pemerintah cuek bebek saja, maka yang terjadi di masyarakat terhadap Ciliwung adalah kecuekbebekan yang membumi. Akibatnya banjir selalu mengintai disetiap musim penghujan, dan kini banjir mengintai di setiap hujan lebat mengalir di ibukota Jakarta. Oleh karena itu, sebagai manusia yang bijak-bukankah kebersihan itu sebagian dari iman menurut agama mayoritas di republik ini? Mengapa tidak mencoba untuk menerapkannya? Dan mungkin ini hanya sekedar saran bagi pemerintah daerah untuk lebih konsen mengadakan program-program semacam Program Kali Bersih (Prokasih) yang beberapa dekade kebelakang pernah digalakkan, namun sekarang hilang begitu saja. Memang, berat rasanya bila persoalan ini hanya menitikberatkan pada pemerintah setempat, karena kenyataannya-sampah itu adalah hasil dari masyarakat juga, dan oleh karenanya maka hal ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata, melainkan warga yang bernanung di dalamnya. Namun, untuk menghindari bencana yang akan terjadi lebih dahsyat dan menyadarkan warga masyarakat kota Jakarta untuk lebih peduli terhadap bencana air bah samudera coklat tersebut, kalau bukan pemerintah yang menyadarkan siapa lagi? Bukankah itu tugas pemimpin untuk menyadarkan warga masyarakat yang bernanung di dalam kekuasaannya? Atas nama Ciliwung yang menjadi urat nadi kota. Sanggupkah kita membersihkan nadi yang macet karena sampah untuk kesehatan dan keuntungan-keuntungan lain di depan?   **Sekian**</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hanhandini.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hanhandini.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hanhandini.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hanhandini.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hanhandini.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hanhandini.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hanhandini.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hanhandini.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hanhandini.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hanhandini.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hanhandini.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hanhandini.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hanhandini.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hanhandini.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanhandini.wordpress.com&amp;blog=8101712&amp;post=11&amp;subd=hanhandini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanhandini.wordpress.com/2009/06/24/urat-nadi-metropolis-oleh-handini-suwarno/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/34397f4a1f6d0dc4c22ac97012056b5e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">handini</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Indonesia Open 2009, Malaysia, dan Parodi di dalamnya  Dari Event Kompetisi, Sampai Ajang Ber-wooo ria dan Kisah Lucu Mohammad Ahsan</title>
		<link>http://hanhandini.wordpress.com/2009/06/24/indonesia-open-2009-malaysia-dan-parodi-di-dalamnya-dari-event-kompetisi-sampai-ajang-ber-wooo-ria-dan-kisah-lucu-mohammad-ahsan/</link>
		<comments>http://hanhandini.wordpress.com/2009/06/24/indonesia-open-2009-malaysia-dan-parodi-di-dalamnya-dari-event-kompetisi-sampai-ajang-ber-wooo-ria-dan-kisah-lucu-mohammad-ahsan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Jun 2009 06:02:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Handini Suwarno</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanhandini.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Indonesia Open 2009 telah berlalu dari hadapan kita, namun begitu banyak kenangan yang ditoreh dalam Indonesia Open yang tidak mungkin saya lupakan. Event tahunan yang kerap hadir di Jakarta seperti Indonesia Open tentunya disambut masyarakat Indonesia dengan sangat antusias. Hal ini tidak lain dan tidak bukan karena bulutangkis merupakan salah satu cabang olahraga yang mengharumkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanhandini.wordpress.com&amp;blog=8101712&amp;post=8&amp;subd=hanhandini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<div id="attachment_9" class="wp-caption aligncenter" style="width: 1034px"><img class="size-large wp-image-9" title="DSC00249" src="http://hanhandini.files.wordpress.com/2009/06/dsc00249.jpg?w=1024&#038;h=768" alt="Card-" width="1024" height="768" /><p class="wp-caption-text">Card-</p></div>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"> Indonesia Open 2009 telah berlalu dari hadapan kita, namun begitu banyak kenangan yang ditoreh dalam Indonesia Open yang tidak mungkin saya lupakan. Event tahunan yang kerap hadir di Jakarta seperti Indonesia Open tentunya disambut masyarakat Indonesia dengan sangat antusias. Hal ini tidak lain dan tidak bukan karena bulutangkis merupakan salah satu cabang olahraga yang mengharumkan nama Indonesia di perkancahan internasional. Maka tatkala televisi gencar mengiklankan Indonesia Open yang akan dilangsungkan di Istora Senayan pada 16-21 Juni dan di jalan-jalan besar terpampang spanduk ekstra besar seorang atlit memakai sayap yang sedang melakukan jumping-smash, animo masyarakat untuk mendukung tim merah putih kembali menyeruak.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"> Indonesia Open 2009 yang memiliki motto : </span></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Jadilah Saksi Kedahsyatannya!</strong></span></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"> Menjadi titik balik perjuangan tim merah putih setelah gagal mencapai final di Guangzhou dalam memperebutkan piala Sudirman mengalahkan Korsel.  Kini, setelah Indonesia open berakhir dan Indonesia tidak menempatkan salah satu wakil-nya pun sebagai juara di kandang sendiri, sebagian besar masyarakat memiliki kekhawatiran terhadap masa depan bulutangkis yang kerap menjadi tombak Indonesia di mata dunia internasional.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"> Dalam Indonesia Open, selain kompetisi, hal-hal seperti parodi juga muncul di sini. Ada yang membuat gelak tawa, namun ada juga yang membuat hati mangkel tak terkira. Hari kedua Indonesia Open saya datang ke Istora bersama teman saya. Pertama kali memasuki pintu B4 saya langsung dihadapkan pada pertandingan yang sangat menarik. Belum banyak orang memang, karena masih pukul 09.15 WIB. Setidaknya, stadion yang dapat menampung sepuluh ribu orang lebih hanya terisi oleh tiga ratusan orang yang sudah hadir pagi itu. </span></span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Lapangan pertama diisi oleh Flandy Limpele yang berpasangan dengan Anastasia Russkikh dari Rusia yang melawan pasangan dari Yoo Yeun Song dan Kim Min Jung dari Korsel. Lapangan kedua diisi oleh Vita Marissa berpasangan dengan Hendra Aprida Gunawan yang melawan tim ganda campuran asal Malaysia (Wong Pe Tty dan M. Fairuzizuan). Penonton, sekalipun antusias dengan pertandingan yang ditampilkan oleh Flandy dan Anne Ruskkikh yang cukup menarik, namun pertandinagn di lapangan kedua sangat menyedot perhatian. Hal ini dikarenakan santernya berita Malaysia yang kerap melakukan tindakan-tindakan yang kurang berkenan di hati masyarakat Indonesia. Tiga hal krusial yang menyebabkan perang dingin ini kembali terjadi adalah karena masalah Ambalat yang perairannya kerap kali dilintasi kapal perang Diraja Malaysia, masalah Manohara—model cantik Indonesia yang diduga (karena masih belum jelas kebenarannya) mengalami penganiayaaan karena ulah putra kerajaan Kelantan asal Malaysia, dan terakhir yang membuat hati mendidih adalah karena TKW Indonesia, Siti Hajjar mengalami perlakuan tidak manusiawi dari majikannya, Michele—yang orang Malaysia. Karena tiga hal tersebut terjadi secara beruntun dalam waktu yang relatif dekat, setidaknya memunculkan persepsi negatif masyarakat Indonesia terhadap masyarakat Malaysia, maka akibat langsung yang terjadi di Istora, para pebulutangkis asal Malaysia kerap menjadi incaran sindiran para penonton.</span></span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Misalnya, ketika lapangan kosong dan dilakukan pemanggilan pemain selanjutnya lewat mikrofon dengan menyebutkan nama pemain plus negaranya, maka ketika terdengar bahwa pemain selanjutnya berasal dari Malaysia, kontan penonton langsung ber-wooo ria. Mengekspresikan kekesalan mereka kepada pebulutangkis Malaysia yang sebenarnya tidak mengerti apa-apa. </span></span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Ketika sudah berada di lapangan dan dalam status bermain, penonton kerap menyuarakan yel-yel Indonesia, Indonesia, Indonesia, dengan iringan balon-balon yang dibagikan oleh sekuriti yang bertugas. Ini hal yang biasa dan sangat lumrah memang, namun tak jadi biasa tatkala penonton mendukung Negara lain yang saat itu sedang bertanding melawan pebulutangkis Malaysia. Sekarang ini, sepertinya konsep masyarakat Malaysia yang dicitrakan oleh perlakuan beberapa orang dari mereka telah dianggap negatif seluruhnya oleh masyarakat Indonesia. Hal ini memang kurang logis, tapi itulah yang terjadi adanya.</span></span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Sampai ada pebulutangkis Malaysia yang agaknya tidak terima karena negaranya kerap menjadi sindiran keras penonton dan membentuk jarinya yang mengisyaratkan ‘fuck u’ kepada penonton. Seketika penonton di Istora merasa gerah—dan hampir semua ber-wooo ria sambil membentuk jari-jari mereka yang sama artinya dengan yang pebulutangkis Malaysia bentuk, termasuk saya. Entahlah, mungkin dimata sebagian besar orang Indonesia, masyarakat Malaysia adalah masyarakat yang selalu menginjak-injak harga diri dan martabat bangsa Indonesia. Akibatnya event Indonesia Open 2009 ini seperti event pembalasan dendam rakyat Indonesia terhadap Negara kecil namun maju bernama Malaysia.</span></span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Namun, selain menjadi event balas dendam, dalam Indonesia Open juga terjadi hal-hal yang sangat lucu. Hal-hal lucu ini berlangsung tatkala pebulutangkis Indonesia dengan nomor ganda campuran, Mohammad Ahsan-Bona Septano melawan pasangan asal Inggris yang di final Singapura Open—sebelum Indonesia Open berhasil mengalahkan Markis Kido—yang adalah kakak kandung Bona Septano dan pasangannya Hendra Setiawan dengan straight-set.</span></span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Bona dan Ahsan yang ketinggalan angka di partai pertama, langsung bersiaga menjaga pertahanan mereka dan mengoptimalkan kerja keras mereka. Bahkan, saking giatnya, raket Ahsan sampai menyentuh kepala Bona. Bona pun seketika memandang cemberut kepada Ahsan. Ekspresi Bona yang cemberut ini sangatlah lucu dan sontak membuat para penonton tertawa terpingkal-pingkal.</span></span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Belum lama kemudian, Ahsan tiba-tiba mengalami entah cederanya yang kambuh, entah kram. Para medis segera bersiaga membopoh Ahsan ke sisi kiri lapangan dan menyemprotkan krim—yang saya tidak tahu krim apa itu, dengan guna apa. Sekitar dua menit Ahsan mengalami perawatan singkat dan berhasil berdiri kembali. Namun, Ahsan tiba-tiba memperlambat waktu dan mengambil sesuatu dari tas-nya yang terletak di sisi kiri lapangan. Ia mengambil benda seperti stagen yang langsung dililitkannya pada tubuhnya. Stagen itu terpasang di luar bajunya, tidak seperti ketika Sony Dwi Kuncoro dan pemain-pemain lainnya yang memasanganya di balik seragam tanding mereka. Akibatnya penampilan Ahsan dengan stagen di luar sangat membuat kami terhibur, karena sangat lucu—dan saya kira baru pertama kali dalam sejarah ada pemain bulutangkis yang memakai stagen di luar seragamnya. </span></span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Kami mengira Ahsan tidak akan bangkit lagi, namun ternyata salah. Ahsan bangkit lagi dan menunjukkan permainan yang sangat baik—seperti ketika belum mengalami kram atau cedera. Kami benar-benar merasa terharu dengan perjuangan Ahsan yang amat berat memperjuangkan jiwa dan raganya demi memetik poin guna keberhasilan yang akan memnuat penonton bersorak-sorai bahagia, walaupun pada akhirnya pasangan Bona-Ahsan ini akhirnya kalah juga, namun setidaknya penonton merasa bangga karena mereka telah menyajikan permainan yang sangat bagus.</span></span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Begitulah sepetik cerita dari sehari penuh Indonesia Open yang saya lalui. Begitu berwarna, sarat akan makna. Indonesia Open 2010 : Kunantikan dengan Segenap Jiwa dan Raga! ^_^</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">*sekian*</span></span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hanhandini.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hanhandini.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hanhandini.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hanhandini.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hanhandini.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hanhandini.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hanhandini.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hanhandini.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hanhandini.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hanhandini.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hanhandini.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hanhandini.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hanhandini.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hanhandini.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanhandini.wordpress.com&amp;blog=8101712&amp;post=8&amp;subd=hanhandini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanhandini.wordpress.com/2009/06/24/indonesia-open-2009-malaysia-dan-parodi-di-dalamnya-dari-event-kompetisi-sampai-ajang-ber-wooo-ria-dan-kisah-lucu-mohammad-ahsan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/34397f4a1f6d0dc4c22ac97012056b5e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">handini</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hanhandini.files.wordpress.com/2009/06/dsc00249.jpg?w=1024" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00249</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Indonesia dan Diplomasi yang Lemah  Setelah Sipadan dan Ligitan Lepas, Kini Giliran Ambalat yang Menjadi Sasaran Selanjutnya  Oleh Handini Suwarno, The State University of Jakarta</title>
		<link>http://hanhandini.wordpress.com/2009/06/24/indonesia-dan-diplomasi-yang-lemah-setelah-sipadan-dan-ligitan-lepas-kini-giliran-ambalat-yang-menjadi-sasaran-selanjutnya-oleh-handini-suwarno-the-state-university-of-jakarta/</link>
		<comments>http://hanhandini.wordpress.com/2009/06/24/indonesia-dan-diplomasi-yang-lemah-setelah-sipadan-dan-ligitan-lepas-kini-giliran-ambalat-yang-menjadi-sasaran-selanjutnya-oleh-handini-suwarno-the-state-university-of-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Jun 2009 05:56:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Handini Suwarno</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanhandini.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Hanya untuk menunjukkan persepsi yang bergejolak di hati saya, maka saya menuliskan memoar ini. Bukan untuk menggunjing pihak manapun, namun jika salah satu atau dua pihak yang akan saya perbincangkan disini merasa tersinggung, hendaknya instropeksi terlebih dahulu. Konfrontasi Indonesia dengan Malaysia (Indonesia Versus Malaysia) telah mencapai titik kulminasinya belakangan ini. Hal ini bukan karena tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanhandini.wordpress.com&amp;blog=8101712&amp;post=6&amp;subd=hanhandini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE"><em><span style="text-decoration:underline;"><strong>Hanya </strong></span></em></span><span lang="sv-SE"><em><span style="text-decoration:underline;"><strong>untuk menunjukkan persepsi yang bergejolak di hati saya, maka saya menuliskan memoar ini. Bukan untuk menggunjing pihak manapun, namun jika salah satu atau dua pihak yang akan saya perbincangkan disini merasa tersinggung, hendaknya instropeksi terlebih dahulu.</strong></span></em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="sv-SE" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE"> Konfrontasi Indonesia dengan Malaysia </span><span lang="sv-SE">(Indonesia Versus Malaysia) telah mencapai titik kulminasinya belakangan ini. Hal ini bukan karena tidak adanya sebab-musabab. Tentu, dibalik itu semua, tersimpan rapi fakta di lapangan mengenai hal-hal yang menjadi penyebab renggangnya hubungan dua negara yang masih serumpun ini.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE"> Memang aneh, kedua negara yang masih serumpun ini kerap kali terlibat perang dingin yang suatu saat dan secara tiba-tiba kadang menjadi leleh, namun tak jarang tiba-tiba beku kembali. Padahal, yang harusnya nampak adalah kebersamaan. Indonesia dan Malaysia ibarat kakak dan adik. Harusnya kedua negara ini saling menghormati dan mengayomi satu sama lain. Tapi apa yang kita lihat di luar sana? Adakah pihak yang merasa dirugikan sementara pihak lain merasa untung? Jujur, saya bingung mengenai persepsi untung dan rugi ini. </span><span lang="fi-FI">Hal ini dikarenakan, satu sama lain, tidak ada manusia yang bisa hidup sendiri, oleh karena itu, manusia dinamakan makhluk sosial. </span><span lang="sv-SE">Begitupula dengan negara. Indonesia tidak bisa hidup dan memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa ada hubungan baik secara bilateral, regional, maupun internasional dengan negara-negara yang ada di belahan dunia. Oleh karena itu, jika dikaitkan dengan impor dan ekspor yang terjadi antara satu negara dengan negara lain, maka yang ada adalah dua konsep mengenai untung dan rugi ini. Namun bukan perbincangan mengenai hal ini yang ingin saya bahas. Untung dan rugi yang saya akan bahas adalah mengenai persepsi dan tujuan, juga motif-motif terselubung yang ada dan menggerogoti sistem yang kian lapuk dimakan renta zaman.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE"> </span><span lang="fi-FI">Bukan rahasia lagi bahwa Diplomasi Republik Indonesia sangat lemah. </span><span lang="sv-SE">Dan saya sangat sedih akan fakta tersebut. Tentu saja karena saya adalah Warga Negara Indonesia. Kasus demi kasus mengenai kepemilikan pulau, garis laut, yang letaknya di ujung  memang menjadi komoditas permasalahan utama negara perbatasan. Dan hal ini juga dialami Indonesia, mengingat Indonesia adalah negara maritim dengan ribuan kepulauan yang membentang dari Sabang hingga Merauke yang tentu saja dikelilingi samudera. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE"> </span><span lang="sv-SE">Masalahnya, bukan sekali dua kali Indonesia, negara saya yang kaya tapi menderita ini—karena berbagai masalah yang terjadi di dalam tubuhnya mengalami penginjak-injakan atas wilayah yang harusnya menjadi milik Indonesia secara de yure maupun de facto. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE"> Malaysia terlampau sombong dan sewenang-wenang mengingat perjanjian mengenai Ambalat telah disepakati antara kedua belah pihak, yaitu Indonesia dan Malays</span><span lang="sv-SE">ia sebelum tahun 1970 dengan kesimpulan :</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>Ambalat Resmi Milik Republik Indonesia</strong></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE"> Mengapa sekarang seakan-akan negeri Jiran tersebut menelan ludahnya kembali</span><span lang="sv-SE"> setelah apa yang mereka sepakati bersama pada 1967-1969? Apa mereka belum puas dengan Sipadan dan Ligitan? Saya dan semua warga negara Indonesia mengetahui bahwa Ambalat menyimpan harta karun, harta yang sangat bermanfaat bagi kelangsungan hidup orang banyak dari pemberitaan di televisi dan media cetak. Pada tahun 2005, perusahaan minyak Malaysia menemukan minyak di perut Ambalat. Dan mereka mengontrak perusahaan minyak bernama shell untuk mengeruk minyak yang terkandung dalam perut Ambalat, dan diwaktu yang sama, Republik saya mengontrak perusahaan minyak ternama milik Italia yang lantas siapakah yang harus disalahkan dalam masalah ini? 	Cukup! Saya sebagai anak bangsa dari Republik Indonesia merasakan hati saya pedih dan sakit yang menjalar ke seluruh arteri di tubuh saya. Saya melihat ketidakadilan, tapi saya juga sedih—karena para diplomat ulung negeri saya tidak keras dalam menindak pihak-pihak yang menerobos barikade batas wilayah kami. Mereka hanya mengatakan bahwa mereka telah memaksimalkan usaha-usaha diplomasi mereka dalam mengemban dan menjaga batas kedaulatan negara. Tapi apa? Adakah hasil yang membuat barisan penduduk terbesar keempat didunia yang berjumlah 220juta ini tersenyum karena usaha diplomat mereka? Ah non-sense belaka!</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE"> Kenyatannya semua penduduk Indonesia hanya diempani rasa kecewa, kecewa, dan kecewa. Anda boleh tanya kepada setiap warga negara di republik ini mengenai kepuasan mereka terhadap kinerja diplomat ulung di negeri ini. Puaskah 220</span><span lang="sv-SE"> juta penduduk yang menaungi suatu kepulauan terbesar terhadap apa-apa hal yang telah dilakukan oleh para diplomat yang duduk di kursi-kursi kebanggaan mereka? Atau tanyakan pada diri anda sendiri sebagai manusia Indonesia yang saban hari harus menerima tingkah laku pejabat yang nyeleneh dan kurang berwibawa, juga tidak memiliki etos kerja yang tinggi dalam mempertanggungjawabkan apa yang mereka kerjakan untuk bangsa dan negara ini. Ingat, mereka itu digaji oleh negara, dengan uang kita-kita, para rakyat tentunya. Tentu mereka harus dapat mempertanggungjawabkannya, bukan sekedar tentu, tapi mesti, kudu.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE">B</span><span lang="sv-SE">ahwasanya Sipadan dan Ligitan juga lepas karena diplomasi yang lemah dari pihak Indonesia. Lantas mengapa jarang sekali elit politik membahas mengenai kedaulatan negara? Apa hal tersebut tak penting bagi mereka? Ekonomi, ekonomi, dan ekonomi terus-menerus dan tanpa bosan selalu menjadi topik utama dan buah bibir yang merah dan menyala sehari-harinya di Republik ini, namun angka penduduk miskin, yang hanya makan sehari sekali, bahkan sampai mengidap busung lapar tetap ada, dan ini adalah kenyataan. Keluasan Indonesia sebagai negara kepulauan memang menjadikan satu permasalahan klasik yang sudah mendarah daging, yaitu mengenai pemerataan pembangunan, dan tentunya pemerataan kesejahteraan rakyatnya.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE"> Jika anda melihat, saat ini banyak orang-orang kampung berbondong-bondong ke Jakarta. Anggapan mereka Jakarta itu ko</span><span lang="sv-SE">ta, sepertiga dari uang yang beredar di republik ini beredar di Jakarta. Jakarta adalah pusat dari kemakmuran dan kegelimangan harta. Jakarta adalah surga bagi para penduduk kampung. Tapi apa yang mereka dapatkan setelah kaki-kaki mereka yang kering memasuki sebuah jejaring bernama Jakarta? Mereka hanya akan jadi pemain figuran yang dilindas struktur yang masih menjadi hegemoni di republik ini. Mereka hanya orang-orang yang akan terlindas oleh zaman dan keadaan sekeliling. Jakarta dari dahulu hingga sekarang adalah kota yang penuh gejolak, tidak pernah tenang.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE"> </span><span lang="sv-SE">Sekarang ini, selain arus urbanisasi ke Jakarta, arus urbanisasi kini berpindah haluan ke Malaysia. Mereka, orang-orang desa pada umumnya mengalami suatu pandangan yang struktural. Bahwa lapangan pekerjaan di negeri seberang lebih memiliki potensi untuk menghasilkan uang yang lebih banyak daripada bekerja di negeri sendiri. Akibatnya, banyak para generasi muda di desa-desa yang meninggalkan desa, dan tentu saja hal ini berpengaruh terhadap hasil produksi desa. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE"> Penduduk desa produktif yang seharusnya bekerja menggarap sawah, kebun atau ladang di desa—demi konsumsi dan kestabilan penyaluran konsumsi baik di desa maupun di kota. Kini, jika anda pulang ke desa anda, sebagian besar—generasi muda akan hilang karena mengejar </span><span lang="sv-SE">materi di negeri sebrang. Dan desa hanya dihuni oleh masyarakat usia tua dan anak-anak kecil.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE"> Kembali ke masalah Ambalat yang sudah mengalami perundingan 13 kali dan tetap saja mengambang. Belum ajeg. Saya merasa s</span>elain Ambalat, Manohara—nama model Indonesia yang telah menikah dengan putra Kerajaan Kelantan, Malaysia mendapatkan sorotan yang sangat tajam di pihak Indonesia. Ia diberitakan mendapatkan penganiayaan—dan oleh sebab itu, walaupun belum pasti bagaimana mengenai kepastian hukumnnya, entah kebenaran ada di pihak Manohara atau di pihak putra Kerajaan Kelantan, setidaknya—hal ini juga berpengaruh terhadap citra orang-orang Malaysia di depan publik Indonesia.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Tidak dapat dipungkiri bahwa pandangan negatif kini telah menyatu dengan konsepsi bangsa. Terhadap orang-orang Indonesia yang kini memandang orang-orang Malaysia, ataupun sebaliknya. Hal ini sangat tidak adil sebenarnya, tapi apa mau dikata, hukum sosial telah berlaku.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Di dalam suatu sistem sosial semisal RT, atau RW atau mungkin kecamatan sekalipun terdapat anggota masyarakat yang baik budi pekerti, namun kekecualian tetap ada, yakni adanya anggota masyarakat yang kurang baik, nyeleneh, ataupun bobrok moralitasnya. Hal tersebut juga ada di dalam tataran masyarakat bangsa yang terdiri atas berbagai macam suku dan etnis. Seperti di Malaysia—sekarang persepsi orang-orang Indonesia atas orang-orang Malaysia adalah begitu buruk karena permasalahan yang timbul diantara dua Negara ini. Padahal tidak semua orang Malaysia memiliki perilaku yang buruk, misalnya.</p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Kasus yang paling krusial akhir-akhir ini adalah Ambalat, kemudian disusul dengan berita model Indonesia yang disiksa, lalu Tenaga Kerja Wanita asal Indonesia yang kerap kali mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari majikannya—yang adalah orang Malaysia. Berita perlakuan buruk warga Malaysia yang secara beruntun tentu saja mendapatkan tempat yang ‘layak’ untuk diperbincangkan oleh masyarakat Indonesia. Bahkan seorang pembawa acara dalam sebuah berita mengatakan : “Kenapa ya, setiap berita yang kita terima dari Malaysia, sungguh-sungguh tidak mengenakkan.” Persepsi ini bukan hanya tumbuh langsung dalam hitungan menit ataupun hitungan minggu. Persepsi ini terus-menerus membentuk suatu konsep yang matang, yang ajeg—karena kejadian tersebut berlangsung terus-menerus.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Bukan kali ini saja, dan bukan pertama kali, kasus penganiayaan TKW asal Indonesia kembali terjadi. Para TKW asal Indonesia ini mengalami perlakuan buruk dari majikannya. Sebut saja dua nama yang sangat familiar karena penderitaan yang mereka alami sebelum Siti Hajjar, yaitu Nirmala Bonar dan Ceriyati.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Ceriyati yang tidak tahan karena majikannya—Ivone yang berdarah dingin, akhirnya terpaksa mengambil langkah nekat sekaligus terbilang hebat. Kabur dari lantai 14 apartemen majikannya. Nirmala Bonar pun demikian, ia mendapatkan perlakuan yang sangat tidak manusiawi dari majikannya. Bahkan, sampai saat ini pun, Nirmala Bonar masih merasakan rasa-rasa tidak enak pada bagian tubuhnya yang dahulu disiksa oleh majikannya.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Dibalik itu semua kita—Warga Negara Indonesia masih kurang menyadari adanya konspirasi-konspirasi yang membentang. Persepsi dan tujuan, seperti yang saya ungkapkan pada bagian atas artikel ini adalah berkaitan satu sama lain. Persepsi timbul atas berbagai macam persoalan yang terjadi secara terus-menerus dan membuat seseorang menyimpulkan sesuatu dari persoalan yang terjadi terus-menerus itu. Tujuan adalah hal yang ingin dicapai oleh salah satu pihak yang berkepentingan. Dalam kaitannya dengan Ambalat, saya melihat ada tujuan tertentu yang diterapkan oleh Malaysia. Ingat Bung, Ambalat itu kaya akan minyak! Sumber daya yang melimpah ruah.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Kalaupun kita berpikir radikal seperti :</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Pulau 	kita banyak.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Jumlah 	pulau di Indonesia lebih dari 17 ribu pulau *it’s amazing*</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Tidak 	apa-apa, baru 3 pulau yang diaku Malaysia, pulau kita masih 	bertengger belasan ribu. Apa ruginya bila membaginya?</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Tapi benarkah jalan pemikiran radikal yang tiba-tiba muncul di otak saya? Saya rasa itu hanya pemikiran yang aneh, yang tidak logis dan tidak patut dipikirkan oleh anak bangsa seperti saya, juga anak bangsa yang lainnya. Kita harus tetap menjunjung tinggi dan membiarkan hukum berlaku sebagaimana mestinya, kita harus tetap mempertahankan pulau yang merupakan milik sah republik kita.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Sakit rasanya hati saya melihat kenyataan dan kejadian yang terpampang di depan mata saya, walau saya tak memantaunya langsung. Sebagai Negara besar, Indonesia layak dan wajib memberikan pelayanan dan perlindungan bagi para warga negaranya, khususnya bagi para warga negaranya yang tengah berada di negeri orang.</p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Kasus Nirmala Bonar yang malah balik menyerang Nirmala Bonar, lepasnya pulau Sipadan dan Ligitan juga adalah suatu bentuk dari kegagalan diplomasi Indonesia dan kegagalan Indonesia dalam menjamin hak-hak warga negaranya di negeri orang. Lobi Malaysia memang kuat karena mereka masih berstatus Negara persemakmuran Inggris—karena kemerdekaan yang diberikan Inggris, yang mengharuskan negeri Jiran tersebut mengirimkan upeti ke Inggris setiap tahunnya. Tapi jangan lupa bahwa Negara kita lebih kuat Bung! Negara kita tercinta merdeka bukan karena pihak lain yang memberikannya, saya rasa—untuk kedepannya para diplomat RI harus berkaca pada sejarah bahwa Indonesia pada era Soekarno-Hatta memiliki diplomat-diplomat ulung yang cerdas luar biasa hingga bisa memerdekakan negeri yang sudah 350 tahun dijajah kolonialisme Belanda.</p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Dan oleh karena itu, nantinya dan kedepannya saya amat sangat berharap Ambalat tetap berada di bawah naungan kekuasaan RI, tidak lagi lepas seperti dua pulau sebelumnya.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">*sekian*</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hanhandini.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hanhandini.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hanhandini.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hanhandini.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hanhandini.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hanhandini.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hanhandini.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hanhandini.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hanhandini.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hanhandini.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hanhandini.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hanhandini.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hanhandini.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hanhandini.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanhandini.wordpress.com&amp;blog=8101712&amp;post=6&amp;subd=hanhandini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanhandini.wordpress.com/2009/06/24/indonesia-dan-diplomasi-yang-lemah-setelah-sipadan-dan-ligitan-lepas-kini-giliran-ambalat-yang-menjadi-sasaran-selanjutnya-oleh-handini-suwarno-the-state-university-of-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/34397f4a1f6d0dc4c22ac97012056b5e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">handini</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://hanhandini.wordpress.com/2009/06/09/hello-world/</link>
		<comments>http://hanhandini.wordpress.com/2009/06/09/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Jun 2009 13:37:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Handini Suwarno</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanhandini.wordpress.com&amp;blog=8101712&amp;post=1&amp;subd=hanhandini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hanhandini.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hanhandini.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hanhandini.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hanhandini.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hanhandini.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hanhandini.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hanhandini.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hanhandini.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hanhandini.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hanhandini.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hanhandini.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hanhandini.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hanhandini.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hanhandini.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanhandini.wordpress.com&amp;blog=8101712&amp;post=1&amp;subd=hanhandini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanhandini.wordpress.com/2009/06/09/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/34397f4a1f6d0dc4c22ac97012056b5e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">handini</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
