Lampu-lampu jalan tinggi menjulang membelah jalan ibukota yang ramai dan padat oleh kendaran roda empat dan roda dua bermesin yang diimpor dari Jepang dan negara-negara Eropa. Pucuk Monas terlihat mengkilap tertempa sinar matahari-bila keadaan matahari masih menyinari bumi, dan tetap mengkilap pada malam hari-oleh adanya sorot lampu dari sana-sini. Seakan tidak mau kalah, ratusan bahkan ribuan gedung-gedung pencakar langit, kini telah menjadi pelengkap yang diharuskan di sebuah kota metropolitan dengan kadar mewah, megah, dan mahal. Dan satu lagi, mereka berdiri angkuh di jalan-jalan ibukota. Saya selalu membayangkan kota saya yang begitu indah dengan kemaha-modernnya bisa bebas sepenuhnya dari luapan samudera coklat yang datang sewaktu-waktu, terlebih-lebih jika musim penghujan telah datang. Namun ironis, pembangunan pesat yang menunjukkan tingkat kehidupan yang diusung oleh para warga metropolitan ini tidak diimbangi dengan nyata untuk sesuatu hal yang penting, namun terlalu dianggap sepele dan acapkali diremehkan. Adalah banjir, yang merupakan makna leksikal dari samudera coklat yang telah saya katakan di bagian atas. Banjir kini tidak hanya melanda kawasan kumuh dan pinggiran kota Jakarta, tapi juga melahap kawasan elit dengan rumah-rumah mewah bergarasi. Banjir bukan berpindah haluan dari daerah kumuh dan menembus daerah elit, namun banjir memperluas daerah kekuasaannya. Ibarat caleg dari sebuah partai, banjir kian semangat menyongsong dirinya agar dapat menguasai daerahnya-tempat ia berasal ke daerah lainnya. Sungguh fantastis-tatkala musim hujan tiba, maka yang kelimpungan kini tidak hanya masyarakat dengan kelas ekonomi menengah ke bawah yang sibuk menaikkan barang dan perabotan rumah tangganya, tapi juga masyarakat golongan borjuis yang kebingungan menyelamatkan barang-barang dan perabotannya karena harga barang-barang dan perabotannya di luar batas kemampuan masyarakat kelas bawah. Jika dirunut lebih jauh hal ini kian jelas dan semakin jelas. Bahwasanya masyarakat metropolis kurang memperhatikan kebersihan adalah salah satu faktor utama penembus banjir menggenangi bagian-bagian elit di pusat seluruh kegiatan negara ini. Tidak usah jauh-jauh, lihatlah disekitar anda sekarang, di jalan yang anda lalui, di trotar tempat anda menyeberang setiap hari untuk pergi bekerja, di bus kota yang anda gunakan, apa yang anda lihat? Bukankah hanya ada satu kata yang paling tepat dan mewakili dari keseluruhan yang ada untuk seharusnya tidak berada di sana. Tahukan anda kata apa itu? Jawabannya singkat : Sampah. Sampah adalah salah satu yang dihasilkan oleh makhluk hidup, sepertihalnya manusia dalam menjalani proses kehidupannya. Tidak dapat dipungkiri, bahwa satu jiwa saja tentu akan menghasilkan sampah. Dan inilah yang tidak disadari warga Jakarta pada umumnya. Kebanyakan dari kita tidak begitu mementingkan kebersihan, jujur saja. Sebagian orang mengaku bersih dan menjaga kebersihan, hanya saja mencakup membersihkan diri dan lingkungan sekitar, serta tidak peduli dengan lingkungan yang bukan sekitar. Fenomena ini terlihat dari lingkungan sekitar yang masih saja diperlukan seorang tukang sapu di jalan tol bebas hambatan-yang notabene sangat riskan sekali. Begitu banyak berserakan sampah, entah organik, maupun non organik yang dihasilkan penduduk Jakarta tidak hanya merambah jalan raya, lingkungan sekitar rumah, selokan dekat sekolah, kantor-bahkan juga sarana penunjang paling vital, termasuk sungai. Sungai Ciliwung yang melintasi kota Bogor, Kabupaten Bogor, Depok, dan Jakarta terlihat kurang terurus, atau bahkan tidak terurus sama sekali. Sungai ini adalah urat nadi Jakarta—yang entah mengapa jarang diperhatikan oleh warga masyarakatnya, apalagi para petinggi yang sedang menaungi daerah yang dipimpinnya. Hal yang terlihat tatkala memandang Ciliwung dengan seksama, timbul perasaan yang sedih bercampur pilu dan geram. Jutaan sampah plastik, sterofoam-yang memiliki kadar bahaya bila digunakan sedang mengambang minta perhatian untuk diangkut dan dibawa ke tempat yang semestinya. Namun seakan tak ada yang peduli, jutaan plastik-plastik yang tidak tahu lagi harus berbuat apa-karena keterbatasan geraknya sebagai benda mati yang hanya mengikuti gejolak arus air yang membawanya hanya bisa terus-menerus menunggu dan teronggok menyedihkan untuk minta diangkut. Tapi siapa peduli? Proyek pengangkatan sampah-sampah di sungai Ciliwung tidak akan memberikan keuntungan secara material dan instan untuk orang-orang yang bernanung di dalamnya. Maka itulah, mungkin kesan segan dan tidak peduli para elit pejabat daerah terus-menerus merangsek dengan niat mereka yang tidak tulus memberikan kebaikan untuk kota yang mereka pimpin. Sampah-sampah yang tidak dipedulikan akhirnya sedikit demi sedikit, sehari demi sehari kian bertumpuk dalam skala yang tidak dapat dihindari. Mereka semakin membludak dan Ciliwung semakin dangkal karena proses pembludakan sampah-sampah yang tidak dikendalikan oleh program-program pemerintah yang diperuntukkan warga masyarakat dalam menyeimbangkan keadaan yang kian hari kian payah. Tidak hanya sampah-sampah yang menjadi faktor Ciliwung kian payah, tapi juga karena timbulnya rumah-rumah semi permanen, bahkan permanen di sekitar bantaran kali Ciliwung. Akibatnya, badan Ciliwung menyusut dan kian menyusut setiap harinya. Dengan penyusutan badan Ciliwung itu, maka otomatis volume air hujan yang dapat ditampung Ciliwung akan menyusut juga, dan akibatnya banjir sudah di depan mata. Dangkalnya Ciliwung oleh sampah, juga penyempitan badan Ciliwung adalah dua hal yang paling krusial menyebabkan bencana banjir di kota Jakarta yang merupakan ibukota negara dengan penduduk dua ratus juta jiwa lebih. Masalah kesehatan-pun timbul kembali dalam wacana ini. Warga yang tinggal di bantaran kali Ciliwung tatkala harus memenuhi kebutuhan MCK Mandi, Cuci, Kakus-nya di kali Ciliwung yang sudah tercemar oleh sampah-sampah. Bahkan mereka menggunakan air dari Ciliwung untuk kesemua aktifitas yang membutuhkan air. Bisakah pemerintah yang duduk di atas sana membayangkan hal ini? Semakin hari daerah peresapan di Jakarta-yang merupakan kota metropolitan ini juga semakin sedikit. Proyek-proyek pembangunan mal di ibukota sudah menjadi bisnis tersendiri bagi pemerintah daerah untuk menggolkan-karena mungkin dianggap lebih menguntungkan dibandingkan dengan mengurusi sampah-sampah di Ciliwung. Padahal di Beijing, sungai bisa menjadi objek wisata yang menguntungkan negara setiap harinya dengan jumlah yang lumayan besar. Apakah kita tidak ingin mencontohnya, mengingat Ciliwung adalah urat nadi metropolis yang snagat strategis bila diusung dalam proyek bisnis semacam ini? Dengan menjadi objek wisata, tidak dapat dipungkiri-akan menyedot jumlah tenaga kerja bagi penduduk sekitar. Perbedaan orientasi antara pemerintah,Urat Nadi Metropolis Oleh : Handini Suwarno, Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia UNJ 2006 Lampu-lampu jalan tinggi menjulang membelah jalan ibukota yang ramai dan padat oleh kendaran roda empat dan roda dua bermesin yang diimpor dari Jepang dan negara-negara Eropa. Pucuk Monas terlihat mengkilap tertempa sinar matahari-bila keadaan matahari masih menyinari bumi, dan tetap mengkilap pada malam hari-oleh adanya sorot lampu dari sana-sini. Seakan tidak mau kalah, ratusan bahkan ribuan gedung-gedung pencakar langit, kini telah menjadi pelengkap yang diharuskan di sebuah kota metropolitan dengan kadar mewah, megah, dan mahal. Dan satu lagi, mereka berdiri angkuh di jalan-jalan ibukota. Saya selalu membayangkan kota saya yang begitu indah dengan kemaha-modernnya bisa bebas sepenuhnya dari luapan samudera coklat yang datang sewaktu-waktu, terlebih-lebih jika musim penghujan telah datang. Namun ironis, pembangunan pesat yang menunjukkan tingkat kehidupan yang diusung oleh para warga metropolitan ini tidak diimbangi dengan nyata untuk sesuatu hal yang penting, namun terlalu dianggap sepele dan acapkali diremehkan. Adalah banjir, yang merupakan makna leksikal dari samudera coklat yang telah saya katakan di bagian atas. Banjir kini tidak hanya melanda kawasan kumuh dan pinggiran kota Jakarta, tapi juga melahap kawasan elit dengan rumah-rumah mewah bergarasi. Banjir bukan berpindah haluan dari daerah kumuh dan menembus daerah elit, namun banjir memperluas daerah kekuasaannya. Ibarat caleg dari sebuah partai, banjir kian semangat menyongsong dirinya agar dapat menguasai daerahnya-tempat ia berasal ke daerah lainnya. Sungguh fantastis-tatkala musim hujan tiba, maka yang kelimpungan kini tidak hanya masyarakat dengan kelas ekonomi menengah ke bawah yang sibuk menaikkan barang dan perabotan rumah tangganya, tapi juga masyarakat golongan borjuis yang kebingungan menyelamatkan barang-barang dan perabotannya karena harga barang-barang dan perabotannya di luar batas kemampuan masyarakat kelas bawah. Jika dirunut lebih jauh hal ini kian jelas dan semakin jelas. Bahwasanya masyarakat metropolis kurang memperhatikan kebersihan adalah salah satu faktor utama penembus banjir menggenangi bagian-bagian elit di pusat seluruh kegiatan negara ini. Tidak usah jauh-jauh, lihatlah disekitar anda sekarang, di jalan yang anda lalui, di trotar tempat anda menyeberang setiap hari untuk pergi bekerja, di bus kota yang anda gunakan, apa yang anda lihat? Bukankah hanya ada satu kata yang paling tepat dan mewakili dari keseluruhan yang ada untuk seharusnya tidak berada di sana. Tahukan anda kata apa itu? Jawabannya singkat : Sampah. Sampah adalah salah satu yang dihasilkan oleh makhluk hidup, sepertihalnya manusia dalam menjalani proses kehidupannya. Tidak dapat dipungkiri, bahwa satu jiwa saja tentu akan menghasilkan sampah. Dan inilah yang tidak disadari warga Jakarta pada umumnya. Kebanyakan dari kita tidak begitu mementingkan kebersihan, jujur saja. Sebagian orang mengaku bersih dan menjaga kebersihan, hanya saja mencakup membersihkan diri dan lingkungan sekitar, serta tidak peduli dengan lingkungan yang bukan sekitar. Fenomena ini terlihat dari lingkungan sekitar yang masih saja diperlukan seorang tukang sapu di jalan tol bebas hambatan-yang notabene sangat riskan sekali. Begitu banyak berserakan sampah, entah organik, maupun non organik yang dihasilkan penduduk Jakarta tidak hanya merambah jalan raya, lingkungan sekitar rumah, selokan dekat sekolah, kantor-bahkan juga sarana penunjang paling vital, termasuk sungai. Sungai Ciliwung yang melintasi kota Bogor, Kabupaten Bogor, Depok, dan Jakarta terlihat kurang terurus, atau bahkan tidak terurus sama sekali. Sungai ini adalah urat nadi Jakarta—yang entah mengapa jarang diperhatikan oleh warga masyarakatnya, apalagi para petinggi yang sedang menaungi daerah yang dipimpinnya. Hal yang terlihat tatkala memandang Ciliwung dengan seksama, timbul perasaan yang sedih bercampur pilu dan geram. Jutaan sampah plastik, sterofoam-yang memiliki kadar bahaya bila digunakan sedang mengambang minta perhatian untuk diangkut dan dibawa ke tempat yang semestinya. Namun seakan tak ada yang peduli, jutaan plastik-plastik yang tidak tahu lagi harus berbuat apa-karena keterbatasan geraknya sebagai benda mati yang hanya mengikuti gejolak arus air yang membawanya hanya bisa terus-menerus menunggu dan teronggok menyedihkan untuk minta diangkut. Tapi siapa peduli? Proyek pengangkatan sampah-sampah di sungai Ciliwung tidak akan memberikan keuntungan secara material dan instan untuk orang-orang yang bernanung di dalamnya. Maka itulah, mungkin kesan segan dan tidak peduli para elit pejabat daerah terus-menerus merangsek dengan niat mereka yang tidak tulus memberikan kebaikan untuk kota yang mereka pimpin. Sampah-sampah yang tidak dipedulikan akhirnya sedikit demi sedikit, sehari demi sehari kian bertumpuk dalam skala yang tidak dapat dihindari. Mereka semakin membludak dan Ciliwung semakin dangkal karena proses pembludakan sampah-sampah yang tidak dikendalikan oleh program-program pemerintah yang diperuntukkan warga masyarakat dalam menyeimbangkan keadaan yang kian hari kian payah. Tidak hanya sampah-sampah yang menjadi faktor Ciliwung kian payah, tapi juga karena timbulnya rumah-rumah semi permanen, bahkan permanen di sekitar bantaran kali Ciliwung. Akibatnya, badan Ciliwung menyusut dan kian menyusut setiap harinya. Dengan penyusutan badan Ciliwung itu, maka otomatis volume air hujan yang dapat ditampung Ciliwung akan menyusut juga, dan akibatnya banjir sudah di depan mata. Dangkalnya Ciliwung oleh sampah, juga penyempitan badan Ciliwung adalah dua hal yang paling krusial menyebabkan bencana banjir di kota Jakarta yang merupakan ibukota negara dengan penduduk dua ratus juta jiwa lebih. Masalah kesehatan-pun timbul kembali dalam wacana ini. Warga yang tinggal di bantaran kali Ciliwung tatkala harus memenuhi kebutuhan MCK Mandi, Cuci, Kakus-nya di kali Ciliwung yang sudah tercemar oleh sampah-sampah. Bahkan mereka menggunakan air dari Ciliwung untuk kesemua aktifitas yang membutuhkan air. Bisakah pemerintah yang duduk di atas sana membayangkan hal ini? Semakin hari daerah peresapan di Jakarta-yang merupakan kota metropolitan ini juga semakin sedikit. Proyek-proyek pembangunan mal di ibukota sudah menjadi bisnis tersendiri bagi pemerintah daerah untuk menggolkan-karena mungkin dianggap lebih menguntungkan dibandingkan dengan mengurusi sampah-sampah di Ciliwung. Padahal di Beijing, sungai bisa menjadi objek wisata yang menguntungkan negara setiap harinya dengan jumlah yang lumayan besar. Apakah kita tidak ingin mencontohnya, mengingat Ciliwung adalah urat nadi metropolis yang snagat strategis bila diusung dalam proyek bisnis semacam ini? Dengan menjadi objek wisata, tidak dapat dipungkiri-akan menyedot jumlah tenaga kerja bagi penduduk sekitar. Perbedaan orientasi antara pemerintah, warga masyarakat, juga Ciliwung sendiri menyebabkan perdamaian mengenai banjir ini sulit untuk diselesaikan. Pemerintah yang kurang konsen menanggapi Ciliwung membuat para warga masyarakatnya kurang menyadari, atau memang karena warga masyarakat kita ini memiliki kepribadian yang harus didesak dan disadarkan pemerintah untuk sesuatu hal terlebih dahulu, maka tatkala pemerintah cuek bebek saja, maka yang terjadi di masyarakat terhadap Ciliwung adalah kecuekbebekan yang membumi. Akibatnya banjir selalu mengintai disetiap musim penghujan, dan kini banjir mengintai di setiap hujan lebat mengalir di ibukota Jakarta. Oleh karena itu, sebagai manusia yang bijak-bukankah kebersihan itu sebagian dari iman menurut agama mayoritas di republik ini? Mengapa tidak mencoba untuk menerapkannya? Dan mungkin ini hanya sekedar saran bagi pemerintah daerah untuk lebih konsen mengadakan program-program semacam Program Kali Bersih (Prokasih) yang beberapa dekade kebelakang pernah digalakkan, namun sekarang hilang begitu saja. Memang, berat rasanya bila persoalan ini hanya menitikberatkan pada pemerintah setempat, karena kenyataannya-sampah itu adalah hasil dari masyarakat juga, dan oleh karenanya maka hal ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata, melainkan warga yang bernanung di dalamnya. Namun, untuk menghindari bencana yang akan terjadi lebih dahsyat dan menyadarkan warga masyarakat kota Jakarta untuk lebih peduli terhadap bencana air bah samudera coklat tersebut, kalau bukan pemerintah yang menyadarkan siapa lagi? Bukankah itu tugas pemimpin untuk menyadarkan warga masyarakat yang bernanung di dalam kekuasaannya? Atas nama Ciliwung yang menjadi urat nadi kota. Sanggupkah kita membersihkan nadi yang macet karena sampah untuk kesehatan dan keuntungan-keuntungan lain di depan? **Sekian** warga masyarakat, juga Ciliwung sendiri menyebabkan perdamaian mengenai banjir ini sulit untuk diselesaikan. Pemerintah yang kurang konsen menanggapi Ciliwung membuat para warga masyarakatnya kurang menyadari, atau memang karena warga masyarakat kita ini memiliki kepribadian yang harus didesak dan disadarkan pemerintah untuk sesuatu hal terlebih dahulu, maka tatkala pemerintah cuek bebek saja, maka yang terjadi di masyarakat terhadap Ciliwung adalah kecuekbebekan yang membumi. Akibatnya banjir selalu mengintai disetiap musim penghujan, dan kini banjir mengintai di setiap hujan lebat mengalir di ibukota Jakarta. Oleh karena itu, sebagai manusia yang bijak-bukankah kebersihan itu sebagian dari iman menurut agama mayoritas di republik ini? Mengapa tidak mencoba untuk menerapkannya? Dan mungkin ini hanya sekedar saran bagi pemerintah daerah untuk lebih konsen mengadakan program-program semacam Program Kali Bersih (Prokasih) yang beberapa dekade kebelakang pernah digalakkan, namun sekarang hilang begitu saja. Memang, berat rasanya bila persoalan ini hanya menitikberatkan pada pemerintah setempat, karena kenyataannya-sampah itu adalah hasil dari masyarakat juga, dan oleh karenanya maka hal ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata, melainkan warga yang bernanung di dalamnya. Namun, untuk menghindari bencana yang akan terjadi lebih dahsyat dan menyadarkan warga masyarakat kota Jakarta untuk lebih peduli terhadap bencana air bah samudera coklat tersebut, kalau bukan pemerintah yang menyadarkan siapa lagi? Bukankah itu tugas pemimpin untuk menyadarkan warga masyarakat yang bernanung di dalam kekuasaannya? Atas nama Ciliwung yang menjadi urat nadi kota. Sanggupkah kita membersihkan nadi yang macet karena sampah untuk kesehatan dan keuntungan-keuntungan lain di depan? **Sekian**